Semakin Ingin Semakin Sakit

“Pada dasarnya manusia diberikan nafsu oleh Tuhan agar dapat terlihat seberapa kuat manusia diberikan berbagai keindahaan dunia. Sebagai manusia yang diciptakan sebagai pengganti di bumi, manusia tidak akan pernah lepas dari nafsu duniawi yang dapat berupa keinginan-keinginan di dunia ataupun mungkin juga keinginan yang nanti akan didapatkan setelah kehidupan dunia. Kebanyakan manusia terjebak dengan hasrat duniawi saja. Mungkin juga hal tersebut tidak jauh dari Saya sendiri.”

Semakin Ingin Semakin Sakit

Sebagai makhluk yang diberikan nafsu oleh Tuhan, pasti seseorang memiliki banyak keinginan dalam hidupnya. Tulisan sebelumnya Saya menulis beberapa keinginan yang Saya inginkan saat ini. Walaupun pada kenyataannya keinginan-keinginan tersebut mungkin sedikit sulit terlaksana. Karena bagaimana pun juga dengan keadaan Saya yang seperti ini sekarang, sangat tidak memungkinkan untuk mewujudkan bahkan hanya salah satu saja dari beberapa keinginan itu.

Pasrah

Untuk saat ini Saya hanya bisa berserah diri saja. Semua ini dikarenakan semua kekecewaan Saya pada keadaan-keadaan yang telah Saya alami sampai dengan keadaan sekarang Saya yang seperti saat ini. Sebetulnya Saya tidak boleh terjebak di dalam keadaan yang seperti ini hanya dengan berdiam diri saja. Dengan semua yang telah Saya lalu dan merasakan ketidakadilan yang Saya alami, maka Saya memutuskan untuk menyerahkan semuanya pada yang telah menciptakan semua hal di dunia ini.

Ya, semua Saya coba serahkan pada yang telah menciptakan manusia dari tanah. Saya sudah gagal dalam menjalani hidup ini. Sudah tidak mungkin lagi bisa diperbaiki, Saya sudah mengecewakan semua orang-orang di dekat Saya terutama orang tua. Sekali lagi Saya tidak akan bisa menceritakan hal yang sekarang Saya alami, karena nantinya akan terasa pedih jika orang lain mendengarnya dan juga mungkin akan merasa jijik pada Saya.

Pecundang atau Bajingan?

Beberapa hari yang lalu, mungkin sudah beberapa minggu yang lalu Saya dikunjungin oleh teman. Bukan sahabat, karena Saya menganggap untuk saat ini Saya tidak mempunyai sahabat. Mungkin juga anggapan ini akan berlangsung untuk beberapa tahun ke depan bahkan mungkin untuk selamanya. Saya sempat mengobrol dengan temanku itu, kami mengobrol tidak jauh-jauh dari keadaan Saya saat ini. Bagaimanapun juga dia yang mendominasi dalam berbicara dan bertanya, karena Saya ini orangnya memang jarang ngomong kalau tidak diajak ngomong atau ditanya terlebih dulu. Dia berkata dengan nada sedikit bercanda tetapi memang fakta Dia berkata:

“Pecundang itu adalah orang yang berdiam diri saja, sedangkan bajingan itu adalah orang yang melakukan sesuatu kesalahan dan perbuatan tercela yang merugikan orang lain. Dia berkata lagi, Saya adalah pecundang, karena Saya tidak melakukan apapun(berhenti berusaha), sedangkan Kamu(Saya) adalah bajingan karena telah melakukan perbuatan tercela yang merugikan orang lain.”

Saya pun berpikir, Saya rasa dia berkata benar. Mungkin Saya bukan hanya pecundang tetapi juga seorang bajingan. Karena saat ini Saya telah mengecewakan kedua orang tuaku dan juga orang-orang disekitarku. Mungkin juga Saya telah melepaskan masa depanku yang cerah.

Jalan Buntu

Saat ini Saya sedang menemui jalanan buntu. Bukan jalan buntu yang terhalang tembok yang masih bisa ditembus oleh alat berat, tapi jalan buntu berupa jurang yang teramat dalam yang manusia biasa tidak akan mampu melewatinya. Tidak ada harapan di depan hadapanku. Pesimis, mungkin kata itu yang tepat saat ini yang dapat orang lontarkan padaku. Bukan hanya pesimis tetapi juga sudah tidak lagi memiliki motivasi diri dan tidak lagi memiliki masa depan. Seakan-akan semua usahaku sejak kecil sampai dengan saat ini sia-sia. Semua usahaku 6 tahun yang lalu sia-sia tak berguna. Mungkin Saya bodoh dan goblok karena melepas begitu saja kesempatan untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Namun dengan keadaan saat ini, yang seperti ini, Saya rasa tidak ada orang lain pun yang dapat memposisikan dirinya seperti pada posisi Saya saat ini. Jadi Saya hanya dapat memaklumi ini semua. Memaklumi orang-orang yang mencaciku, orang-orang yang mencemoohku karena perbuatanku dan mungkin di saat Hari Raya nanti ini semua akan seperti bukan dunia yang indah lagi tapi sudah seperti neraka saja bagiku.

Sakit

Pada akhirnya, yang Saya rasakan saat ini adalah rasa sakit semua pada tubuhku dan juga jiwaku bahkan mungkin pada otak ku juga. Kecewa yang mendalam yang tidak bisa diobati hanya dengan senyuman seorang teman yang sebenarnya hanya bisa bersimpati saja. Mungkin semua kesakitan ini dikarenakan terlalu banyaknya keinginan yang Saya sampaikan pada Tuhan yang tidak dapat Dia kabulkan untukku. Mungkin Saya harus pasrah dengan semua keparahan hidupku saat ini, atau mungkin harus lebih dari sebuah kata pasrah saja yaitu ikhlas?

27 April 2016

Diposting oleh Bayu Handono pada
Label:

2 Komentar

  1. Taufik Nurrohman

    Lari mas! Pergi ke tempat yang baru untuk menjadi orang yang baru di lingkungan yang baru.
  2. Bayu Handono

    @Taufik Nurrohman pengennya sih gitu. bebaass..

www.000webhost.com