Kertas

Kertas terbuat dari pohon yang ditebang oleh manusia, lalu diolah menjadi kertas. Kemudian kertas digunakan oleh manusia lalu dibuang jika sudah lagi berguna dan tidak lagi terpakai. Kertas bisa menjadi sumber kehidupan bagi manusia. Kertas bisa diproses menjadi uang kertas sebagai alat transaksi manusia, menjadi koran sebagai media cetak yang memuat banyak informasi yang berguna bagi manusia, ijazah yang berguna untuk mencari pekerjaan untuk meningkatkan derajat hidup, akta kelahiran, akta tanah, bahkan sampai akta kematian yang berguna untuk menginformasikan bahwa seseorang telah meninggalkan dunia yang sumpek ini.

M

Nasib dan takdir manusia bisa saja ditentukan oleh selembar kertas. Derajat seseorang dapat dinilai dengan menggunakan “kertas”. Orang yang memiliki ijazah tentu saja memiliki gelar, yang mana gelar dapat dipampang di kartu undangan pernikahan sebagai pembanding mana orang yang memiliki gelar tinggi, mana orang yang berasal dari keluarga terpandang, dan mana orang yang hidupnya hanya pas–pasan yang mana tidak ada gelar satupun yang dapat dicantumkan pada undangan pernikahan. Manusia bisa jadi dihargai dan juga bisa dicaci maki oleh benda yang bernama kertas. Orang yang memiliki banyak uang tentu saja akan sangat dipandang luhur oleh teman, saudara, ataupun tetangga. Orang yang tidak memiliki uang, maka kesempatan untuk dicaci maki dan dihina!! akan lebih besar dibanding orang yang memiliki banyak uang. Ke–sah–an pernikahan seseorang dapat dilihat dari buku nikah yang dimiliki, Kemapanan seseorang dapat dilihat dari akta tanah yang dipunya.

Kitab suci pun terbuat dari kertas. Yang jika mau kita bisa gunakan untuk menilai seseorang taat beragama atau tidak dengan melihat ada atau tidaknya tumpukan kitab suci dan buku–buku agama di rumahnya. Yang entah dibaca juga atau tidak. Padahal, kita tidak tahu isi hati orang itu seperti apa. Nasib dan takdir makhluk telah ditulis pada kertas yang berada jauh di sana. Mau tidak mau manusia hanya bisa menjalani isi dari tulisan yang ada di kertas tersebut. Baik, buruk, jahad, selamat, celaka(amit–amit), introvert, ekstrovert, ambivert, pemarah, periang, keras, lembut sudah dituliskan di kertas itu.

Kemajuan zaman mengubah kertas manjadi digital tak mampu mengubah keadaan dan jalan cerita. Hakikatnya sama saja. Orang berdaya beli tinggi tentu gadget dan barang yang dipunya berharga mahal, begitu pula sebaliknya. Walau ada saja yang memaksakan kehendaknya ingin mengubah penilaian dan cara pandang orang pada dirinya dengan membeli barang yang mahal walau dengan ngutang, nyicil, minjam dan semacamnya. Atau mungkin hanya sekedar pemuas batin saja.

Jadi sebenarnya, orang–orang itu menilai kita dengan penghormatan hakiki terhadap jati diri kita atau penghormatan pada benda–benda dan kertas–kertas yang kita miliki?

Diposting oleh Bayu Handono pada
Label:

0 Komentar

  1. Belum ada komentar.

www.000webhost.com