Kalibrasi Kesabaran

Banyak sekali masalah dalam hidup Saya. Tepatnya dalam semua makhluk hidup. Banyak sekali masalah yang sulit untuk dijabarkan satu persatu pada orang–orang apa saja masalah yang sedang Saya alami.

Setelah beberapa waktu lalu handphone Saya rusak, sekarang baterai laptop Saya yang rusak. Awalnya baterai handphone Saya mulai turun kualitasnya, lalu setelah Saya ganti dengan baterai yang baru, ternyata normal kembali. Masalah ternyata ada pada baterainya, tapi setelah Saya mengganti baterai handphone tersebut, tidak lama dari itu handphone yang sama juga seketika tidak bisa menyala. Awalnya Saya membiarkan baterai handphone–nya habis dan lupa mengisi ulang baterainya sampai dipagi harinya, handphone itu sudah tidak bisa diisi ulang dan tidak bisa menyala sama sekali.

Akhirnya Saya membeli handphone baru tapi bekas dengan harga 850 ribu rupiah. Karena mau tidak mau Saya masih membutuhkan handphone untuk komunikasi dan keperluan kuliah Saya. Lagi–lagi Saya harus meminta uang pada orang tua. :(

Parah… Saya belum bisa membeli handphone dengan jerih payah dan hasil usaha Saya sendiri. Bagi Saya itu sudah menjadi catatan dosa Saya terhadap kedua orang tua Saya. Lagi–lagi Saya dibuat cengeng lagi oleh–Mu.

Sekarang ini Saya sedang mengalami masalah baru(lagi). Laptop Saya tidak bisa menyala jika tidak sambil mengisi daya alias harus sambil tersambung terus dengan arus listrik, tidak bisa menyala jika tidak tersambung langsung dengan sumber listrik. Sudah Saya coba mencari di internet, apa masalah yang terjadi. Saya mendapat bahwa kebanyakan masalah tersebut adalah error dari windows 7, kebetulan Saya memakai sistem operasi windows 7. Di internet Saya mendapatkan informasi bahwa hal tersebut diakibatkan karena adanya kesalahan dari OS atau karena baterai harus dikalibrasi atau baterai sudah harus diganti dengan yang baru atau… apalah banyak sekali informasi yang Saya dapat dan sudah Saya coba.

Kalibrasi

  • Pertama, Saya sudah coba mengkalibrasi baterai laptop Saya dengan mengikuti langkah yang Saya dapat dari internet. Dengan cara mengisi daya baterai sampai 100 persen, lalu memakai laptopnya sampai dengan baterainya habis atau ketika baterai mencapai 5% laptop harus di hibernate lalu setelah itu membiarkannya sampai baterainya habis. Setelah itu, mengisinya kembali sampia dengan 100% atau sampai dengan lampu indikator menyala berwarna hijau. Setelah itu, selanjutnya Saya harus menyalakan laptop dan tadaaa… ternyata sama saja tidak ada efek apapun. Oh iya, Saya lupa menjelaskan apa peringatan di laptop tentang baterainya. Kurang lebih peringatannya seperti ini, “Baterai tidak terpasang dengan benar, silahkan pasang kembali baterai dengan benar.” kurang lebih seperti itulah setelah pesan peringatan Saya terjemahkan dengan pemahaman Saya sendiri ke bahasa Indonesia. Setelah laptop menyala(sambil kabel menancap pada sumber listrik alias mesti nancep terus ke sumber listrik), Saya coba lihat indikator baterai yang ada di layar. Ternyata sudah 100% :D Namun, semua itu hanya ilusi. Indikator 100% hanyalah topeng kesedihan yang ditutupi kebahagiaan. Iya, setelah melihat indikator baterai 100% alias full, Saya cabut kabel pengisi dayanya. Dan, tadaa… laptop pun langsung modar!! Ternyata proses kalibrasi gagal atau mungkin memang baterainya meang sudah harus diganti dengan yang baru?
  • Kedua, Saya sudah coba install ulang OS–nya. Semua sudah Saya jalankan, install ulang, menginstal kembali program–program atau software–sotware yang dibutuhkan lalu setelah semua proses selesai. Tadaa… :) Sama saja, indikator menunjukkan 100% karena, tetapi saat Saya cabut kabel pengisi dayanya langsung mati lagi.
  • Ketiga, Saya sudah mencoba mengkalibrasi lagi dengan cara mengisi ulang daya baterai laptop dalam keadaan mati, sama seperti cara pertama, tetapi dengan membuka layar laptop. Cara pertama Saya biarkan layar laptop dalam keadaan tertutup tidak berhasil. Jika cara ini berhasil, maka itu adalah sebuah keajaiban tiada tara yang pernah Saya dapat dalam hidup Saya(selain Saya masih bisa mempertahankan hidup Saya sampai sekarang). Jika tidak berhasil juga, maka Saya tidak tahu lagi harus dengan cara apalagi selain harus membeli baterai yang baru. Dan ternyata sama juga, nihil. Proses kalibrasi terakhir tadi tidak berhasil(tidak berefek) juga.

Untuk orang yang sudah bisa mencari penghasilan sendiri, tentu tidak akan menjadi masalah yang besar. Hanya perlu membeli batere yang baru dengan uang sendiri, beres. Namun, Saya dengan keterbatasan seperti ini harus berpusing–pusing dahulu lalu stres kemudian untuk bisa membeli baterai yang baru. Karena lagi–lagi Saya harus meminta lagi pada orang tua. Orang macam apa yang masih meminta–minta pada kedua orangtuanya di umur yang sudah 26 tahun, kalau bukan sorang pecundang? Bagi Saya, mungkin bagi semua orang juga. Meminta pada orang tua adalah suatu keburukan. Sudah seharusnya Saya memberi bukan lagi hanya menerima.

Semua hal tadi sudah pasti hal yang sepele, tetapi mungkin Kamu tidak tahu bahwa bagi Saya itu adalah suatu masalah yang sangat besar.

Ketika handphone Saya rusak, Saya harus meminta uang pada orang tua = dosa. Ketika harus membeli baterai baru untuk laptop = dosa.

Bagi Saya, banyak hal sepele yang membuat Saya bisa menangis termasuk hal–hal seperti di atas yang telah Saya tuliskan. Bukan semata karena kehilangan handphone lama dan harus membeli yang baru, bukan juga karena harus membeli baterelai laptop yang baru, tetapi karena semua itu harus menggunakan uang orang tua. Banyak orang–orang sekitar Saya yang sulit mengerti akan hal–hal seperti itu. Hal–hal pedih yang Saya alami, hal yang tidak bisa ceritakan langsung pada mereka. Hal yang seharusnya tidak terjadi pada Saya(lagi–lagi Saya menyalahkan takdir).

Saya hanya iri. Iri dengan keberhasilan “mereka”. Saya iri, kenapa Saya bisa dihadapkan dengan situasi seperti ini. Kenapa mereka dengan mudah merasakan keberhasilan sedang Saya tidak. Ahh sudahlah.

Saya hanya sedang bingung memikirkan masa depan Saya. Akan jadi apa beberapa tahun ke depan? Apa Saya bisa menghidupi diri Saya sendiri? Apa Saya bisa menjadi pemimpin untuk diri Saya sendiri?(Terlebih untuk orang lain juga). Apa Saya bisa mencari jodoh sendiri?Apa Saya bisa membentuk sebuah keluarga(berumah tangga)? Ini serius. Sampai sekarang Saya masih kehilangan keyakinan pada diri Saya sendiri untuk bisa menjawab pertanyaan–pertanyaan itu. Saya harap Saya bisa menjawab pertanyaan–pertanyaan semacam itu.

Saya selalu memikirkan rencana–rencana masa depan Saya. Saya ingin jadi PNS meskipun kemungkinannya sudah sangat kecil. Kuliah saja belum lulus–lulus, boro–boro mau masuk pegawai negeri sipil. Saya tidak mau merepotkan orang tua dan orang lain terus. Saya ingin punya rumah sendiri, mempunyai keluarga dan kehidupan sendiri. Hidup mandiri. Saya rasa keinginan semua orang seperti itu, tetapi setidaknya orang–orang seumuran Saya sudah bisa melakukan sebagian dari hal itu, seperti bekerja, menikah, berkeluarga, &ldquomembalas” jasa orang tua, membangun kehiduoan tersendiri. Sedang Saya hanya diam di tempat. Jangankan berlari, berjalan pun tidak, hanya melongo di satu tempat saja.

Sabar

Kalau bicara kesabaran, Saya sering ingat dengan kata–kata Alm. Gus Dur:

“Sabar itu gak ada batasnya. Kalau sabar ada batasnya, ya berarti tidak sabar.”

Mungkin Saya kurang sabar. Itu benar. Saya ini orangnya kurang sabaran dalam menghadapi sesuatu. Bahkan Saya ini orangnya gampang sekali marah dan emosi, tapi Saya selalu memendamnya dan akhirnya membuat Saya gila. Kunci dari keberhasilan ya kesabaran. Kalau gak berhasil–berhasil ya sabar saja, kalau keburu tua, ya sabar saja. Toh sama saja, mau sabar atau tidak sudah ada jalannya masing–masing.

0 Komentar

  1. Belum ada komentar.

www.000webhost.com