Gigi

gigi

Amburaduul…

Percaya atau tidak, foto di atas itu foto gigi Saya.

Aneh, jijik, geli, miris, lucu atau apapun ekspresi Kamu saat melihat ini. Inilah kenyataannya. Kenyataan wajah Saya dan bentuk susunan gigi Saya yang sebenarnya. Sengaja Saya membuat tulisan ini, tidak bermaksud mempermalukan diri sendiri dan membongkar aib sendiri. Ini cuma kenyataan yang Saya alami dan apa adanya Saya.

Saya akan menceritakan bagaimana awalnya sampai bisa gigi Saya seperti itu. Pertama, saat Saya masih kecil Saya sering sekali makan cokelat pagi hari. Saya biasa pergi ke warung bersama Ibu Saya untuk membeli cemilan di pagi hari. Setiap hari dari dulu sampai sekarang kami sekeluarga tidak pernah terbiasa makan di pagi hari. Kami hanya terbiasa sarapan ataupun nyemil makanan kecil seperti kue, roti dan semacamnya. Bahkan sampai sekarang saat Saya sedang menulis ini, Saya masih makan kue dan satu gelas teh manis setiap pagi.

Waktu kecil Saya sering makan cokelat dan jarang sekali sikat gigi. Sikat gigi paling di sore hari saja itupun saat Saya sedang mandi saja. Percaya atau tidak, itu yang menjadikan gigi Saya seperti sekarang. Berantakan amburadul…

Dulu, gigi Saya tidak seperti itu. Awalnya gigi Saya tumbuh layaknya anak normal. Normal mulai dari gigi seri, gigi taring sampai dengan gigi geraham. Namun saat Saya di sekolah dasar, Saya lupa kelas berapa. Gigi seri depan kedua dari gigi seri Saya tidak muncul sebagaimana manusia normal mestinya.

Gigi depan Saya entah kenapa tidak tumbuh dan hanya ada sisa gigi susu berwarna kecokelatan yang mestinya sudah dicabut atau sudah tanggal dengan sendirinya namun tidak tanggal juga. Setelah beberapa tahun, akhirnya Saya memutuskan untuk ke dokter gigi. Waktu itu Saya ke dokter gigi yang ada di sekitar Jalan Asia Afrika belok ke kanan Di Bandung. Tepatnya di kantor Pos Alun–alun, letaknya tepat di depan penjara Banceuy bekas penjara Presiden Soekarno dulu. Di kantor Pos tersebut ada klinik dokter khusus untuk pegawai dan keluarga dari pegawai Pos saja.

Setelah Saya ke dokter, sisa gigi depan Saya pun dicabut. Entah kenapa setelah gigi susu depan tersebut dicabut, beberapa bulan kemudian gigi seri dewasa Saya mulai tumbuh. Yang Saya ingat, saat kelas satu SMK gigi Saya mulai tumbuh. Aneh kan?

face

Gigi manusia macam apa yang mulai tumbuh saat sudah kelas 1 SMK?

Ternyata, gigi dewasa Saya terhalang oleh gigi susu Saya yang mestinya sudah tumbuh dari dulu. Satu kesalahan Saya mestinya Saya sudah mencabut gigi susu Saya dari dulu-dulu. Mungkin gigi Saya akan sedikit rapih tidak amburadul seperti saat ini. Saya kira itu yang membuat gigi Saya berantakan tidak karuan. Pertama, waktu kecil Saya sering makan cokelat di pagi hari dan jarang sikat gigi. Kedua, Saya telat mencabut gigi susu seri Saya yang tidak mau tanggal itu.

Dampaknya, sekarang gigi Saya menumpuk satu sama lain. Gigi seri dari urutan paling tengah sebelah kanan menumpuk dengan gigi seri depan kedua dari tengah. Sehingga kedua gigi tersebut berebut tempat dan kekuasaan satu sama lain seperti pejabat di negeri ini.

Dampak tragisnya, Saya menjadi manusia yang kurang percaya diri untuk tersenyum apalagi tertawa terbahak-bahak di depan orang yang baru Saya kenal. Saya bahkan selalu menahan diri untuk tidak tersenyum di depan orang-orang. Bayangkan seperti apa yang Saya rasakan. Bahkan Saya selalu berpikir, apakah jika nanti Saya akan melamar kerja, gigi ini akan menjadi suatu permasalahan diterima tidak kerjanya Saya nanti. Selain itu, Saya tidak punya banyak teman. Bukan sombong dan tidak tahu kata “silaturrahim”.

Namun dengan semua kekurangan Saya dan dengan semua apa yang sudah Saya alami seperti tulisan-tulisan Saya sebelumnya, rasanya kalian sekarang sudah tahu kenapa Saya suka menyendiri saja. Senang sendirian saja.

Mungkin itu juga kenapa Saya sudah dapat jodoh. :s

Orang tua Saya pun sering menasihati Saya,

“Jadi orang itu jangan kuper, jadi orang itu mesti gesit, supel dan mudah bergaul.”

Kalimat yang seringkali Saya dengar dari orang tua Saya, bahkan mungkin dari teman Saya yang secara tidak langsung Saya tahu orang-orang terdekat Saya selalu mempermasalahkan sifat Saya yang pendiam dan jarang ngomong. Kalaupun Saya bisa bicara, Saya hanya bisa bicara panjang lebar dengan orang yang tidak ingin ikut campur urusan orang. Saya tidak nyaman dengan orang yang selalu ingin ikut campur urusan orang lain. Saya lebih nyaman dengan orang yang bisa menahan diri untuk tidak ikut campur urusan orang lain.

Saya bisa maklumi jika orang-orang selalu mempermasalahkan sifat pendiam dan jarang bicaranya Saya. Saya maklum, mungkin mereka belum tahu dan belum membaca apa itu manusia Introvert. Saya rasa sampai kananpun orang ekstrovert tidak akan bisa memahami orang introvert.

Saya maklum.

24 Desember 2017 (H -4 ke 26)

0 Komentar

  1. Belum ada komentar.

www.000webhost.com